Tentang Skrining Pre-Diabetes
Skrining Pre-Diabetes adalah alat bantu khusus yang dirancang untuk menilai risiko seseorang mengalami gangguan metabolisme gula darah sebelum berkembang menjadi diabetes tipe 2.
Pertanyaan yang diajukan dalam skrining ini mengevaluasi beberapa komponen, termasuk usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh (IMT), tingkat aktivitas fisik harian, tekanan darah tinggi, dan riwayat diabetes dalam keluarga. Kombinasi faktor-faktor ini menghasilkan skor risiko untuk menentukan apakah seseorang perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Penting untuk diingat bahwa hasil skrining ini bukan diagnosis medis. Skrining hanya berfungsi sebagai langkah awal deteksi risiko penyakit diabetes. Konfirmasi diagnosis tetap memerlukan pemeriksaan klinis oleh tenaga kesehatan.
Mengapa Pre-Diabetes Penting untuk Dideteksi Dini?
Pre-diabetes adalah kondisi saat kadar gula darah berada di atas normal, tetapi belum masuk kategori diabetes. Kondisi ini sering tidak menunjukkan gejala, sehingga mudah terlewat dan bisa berkembang serius dari waktu ke waktu.
Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di tahun 2018, menunjukkan bahwa 41,2% dari populasi umum yang diperiksa dengan Modified FINDRISC mengalami pre-diabetes dan memerlukan konfirmasi tes lanjutan untuk kondisi terkait (Cahyaningsih et al., 2025).
Dampak Kesehatan Pre-Diabetes yang Tidak Ditangani
Tanpa penanganan, pengidap pre-diabetes berisiko mengalami komplikasi serius di bawah ini.
|
Komplikasi |
Keterangan |
|
Diabetes tipe 2 |
Pre-diabetes bisa berkembang jadi diabetes tipe 2. Pada orang dengan IGT (Impaired Glucose Tolerance) dan IFG (Impaired Fasting Glucose), risikonya dapat mencapai 50% dalam 5 tahun (Fujiati et al., 2017). |
|
Penyakit kardiovaskular |
Pre-diabetes dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, seperti penyakit jantung dan stroke. Risikonya hampir 2 kali lipat dibandingkan orang dengan kadar gula darah normal (Huang et al., 2016). |
|
Kerusakan ginjal |
Pre-diabetes, terutama ketika disertai penumpukan lemak di area perut, berkaitan dengan peningkatan risiko nefropati atau kerusakan ginjal. |
|
Kerusakan saraf dan retina |
Komplikasi pada pembuluh darah kecil yang dapat memengaruhi saraf dan retina mulai berkembang sejak fase pre-diabetes. Komplikasi tidak selalu menunggu sampai diabetes terdiagnosis (Wang et al., 2025). |
*) Sumber: Fujiati et al. (2017); Huang et al. (2016); Wang et al. (2025).
Mengenali Tingkat Risiko Pre-Diabetes
Skor dari Skrining Pre-Diabetes membantu mengklasifikasikan risiko seseorang ke dalam dua kategori utama, yakni Risiko Rendah dan Risiko Tinggi.
1. Risiko Rendah (Skor 0–4)
Orang pada kelompok ini memiliki profil metabolik yang relatif baik. Faktor risiko, seperti berat badan dan aktivitas fisik masih dalam rentang yang sehat.
Meski demikian, risiko bisa meningkat seiring waktu jika gaya hidup tidak dijaga. Kelompok ini dianjurkan untuk tetap melakukan skrining ulang secara berkala, setiap 1–3 tahun.
2. Risiko Tinggi (Skor 5–11)
Orang pada kelompok ini punya kombinasi beberapa faktor risiko signifikan. Studi menunjukkan bahwa peningkatan skor IMT secara progresif berkorelasi langsung dengan peningkatan risiko pre-diabetes (Lin et al., 2026).
Kelompok ini sangat dianjurkan untuk segera melakukan pemeriksaan laboratorium untuk dapat memastikan ada tidaknya diabetes di bawah pengawasan tenaga kesehatan.
Kapan Harus Segera Berkonsultasi dengan Dokter?
Terlepas dari hasil skor skrining, segera temui tenaga kesehatan jika Anda mengalami satu atau lebih kondisi berikut ini.
- Sering merasa haus berlebihan atau buang air kecil lebih dari biasanya.
- Penglihatan tiba-tiba kabur tanpa sebab yang jelas.
- Luka yang sulit sembuh atau sering mengalami infeksi berulang.
- Kelelahan ekstrem yang tidak membaik meski sudah cukup istirahat.
- Memiliki riwayat diabetes gestasional atau bayi lahir dengan berat di atas 4 kilogram.
- Memiliki anggota keluarga dekat (orang tua atau saudara kandung) yang didiagnosis diabetes sebelum usia 50 tahun.
- Tekanan darah sistolik ≥140 mmHg yang tidak terkontrol.
Langkah Pencegahan Pre-Diabetes
Kabar baiknya, pre-diabetes mungkin dicegah dan bahkan dibalik ke kondisi gula darah normal (normoglikemia). Bukti ilmiah mendukung beberapa strategi utama seperti di bawah ini.
1. Turunkan Berat Badan secara Bertahap
Program pencegahan diabetes (Diabetes Prevention Program/DPP) yang dikembangkan CDC menetapkan target penurunan berat badan sebesar 5–7% dari berat awal disertai aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu.
Kombinasi ini terbukti mampu menurunkan risiko berkembangnya diabetes tipe 2, sampai 58% pada individu berisiko tinggi (Fujiati et al., 2017).
2. Tingkatkan Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik meningkatkan sensitivitas insulin serta mendorong penyerapan glukosa oleh otot. Studi menunjukkan bahwa melakukan aktivitas fisik lebih dari 150 menit per minggu membantu meningkatkan peluang pemulihan ke normoglikemia sebesar 4,15 kali lipat dibandingkan individu yang tidak aktif (Rivera-Martinez et al., 2025).
Jenis olahraga untuk gula darah tinggi yang direkomendasikan adalah kombinasi aerobik (jalan cepat, bersepeda, berenang) dan latihan kekuatan (resistance training) 3–4 kali per minggu.
3. Terapkan Pola Makan Rendah Karbohidrat Olahan
Pola makan yang membatasi gula tambahan dan karbohidrat olahan sebagai dasar manajemen pre-diabetes. Diet Mediterania yang kaya sayuran, ikan, hingga lemak tak jenuh meningkatkan sensitivitas insulin dan mendukung pemulihan kadar gula darah (Rondanelli et al., 2023).
Selain itu, Anda juga harus membatasi konsumsi minuman manis, nasi putih berlebihan, tepung terigu, serta makanan olahan yang tinggi gula.
4. Pantau Lingkar Pinggang Berkala
Peningkatan progresif pada indeks massa tubuh (IMT) dan lingkar pinggang berkaitan langsung dengan meningkatnya risiko pre-diabetes (Lin et al., 2026). Rekomendasi WHO untuk Asia Pasifik menetapkan batas lingkar pinggang pada pria ≥90 cm dan wanita ≥80 cm.
5. Kelola Stres dan Kualitas Tidur
Tidur yang tidak cukup atau berkualitas buruk berisiko mengganggu keseimbangan energi serta menyebabkan peningkatan rasa lapar serta penurunan pengeluaran energi, yang pada akhirnya memperburuk resistensi insulin (Rondanelli et al., 2023).
Targetkan tidur 7–9 jam per malam dengan jadwal yang konsisten. Terapkan sleep hygiene atau kebiasaan tidur yang baik, seperti hindari bermain gadget 30–60 menit menjelang tidur, jadikan kamar tidur menjadi gelap dan sejuk, serta lakukan relaksasi sebelum tidur.
Disclaimer
Hasil Skrining Pre-Diabetes ini bersifat informatif dan tidak menggantikan diagnosis atau saran medis. Jika memiliki kekhawatiran mengenai kadar gula darah atau kondisi kesehatan Anda maupun orang terdekat, konsultasikan dengan dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.
References:
- Pre-diabetes. (2025). Harvard Health. Retrieved February 18, 2026, from https://www.health.harvard.edu/diseases-and-conditions/pre-diabetes-a-to-z
- Diabetes prevention: 5 tips for taking control. (2024). Mayo Clinic. Retrieved February 18, 2026, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/type-2-diabetes/in-depth/diabetes-prevention/art-20047639
- Abe, M., Fujii, H., Funakoshi, S., Satoh, A., Kawazoe, M., Maeda, T., Tada, K., Yokota, S., Yamanokuchi, T., Yoshimura, C., Mimata, R., Takahashi, K., Ito, K., Yasuno, T., Kuga, T., Mukoubara, S., Akiyoshi, K., Kawanami, D., Masutani, K., & Arima, H. (2021). Comparison of Body Mass Index and Waist Circumference in the Prediction of Diabetes: A Retrospective Longitudinal Study. Diabetes therapy : research, treatment and education of diabetes and related disorders, 12(10), 2663–2676. https://doi.org/10.1007/s13300-021-01138-3
- Wang, Y., Chai, X., Wang, Y., Yin, X., Huang, X., Gong, Q., Zhang, J., Shao, R., & Li, G. (2025). Effectiveness of Different Intervention Modes in Lifestyle Intervention for the Prevention of Type 2 Diabetes and the Reversion to Normoglycemia in Adults With Prediabetes: Systematic Review and Meta-Analysis of Randomized Controlled Trials. Journal of medical Internet research, 27, e63975. https://doi.org/10.2196/63975
- Rivera-Martínez, W. A., Salazar-Solarte, A. M., Sánchez-Machado, D. M., Torregrosa, L. F., Pacheco, R., Bolaños-Moreno, Y., & Casanova-Valderrama, M. E. (2025). Factors related to reversal of prediabetes in patients from a cardiovascular risk program during 2019 - 2023. Cardiovascular diabetology. Endocrinology reports, 11(1), 12. https://doi.org/10.1186/s40842-025-00224-w
- Cahyaningsih, I., Rokhman, M. R., Sudikno, Postma, M. J., & van der Schans, J. (2025). Accuracy of the Modified Finnish Diabetes Risk Score (Modified FINDRISC) for detecting metabolic syndrome: Findings from the Indonesian national health survey. PloS one, 20(2), e0314824. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0314824
- Rondanelli, M., Barrile, G. C., Cavioni, A., Donati, P., Genovese, E., Mansueto, F., Mazzola, G., Patelli, Z., Pirola, M., Razza, C., Russano, S., Sivieri, C., Tartara, A., Valentini, E. M., & Perna, S. (2023). A narrative review on strategies for the reversion of prediabetes to Normoglycemia: Food pyramid, physical activity, and self-monitoring innovative glucose devices. Nutrients, 15(23), 4943. https://doi.org/10.3390/nu15234943
- Rintamäki, R., Rautio, N., Peltonen, M., Jokelainen, J., Keinänen-Kiukaanniemi, S., Oksa, H., Saaristo, T., Puolijoki, H., Saltevo, J., Tuomilehto, J., Uusitupa, M., & Moilanen, L. (2021). Long-term outcomes of lifestyle intervention to prevent type 2 diabetes in people at high risk in primary health care. Primary care diabetes, 15(3), 444–450. https://doi.org/10.1016/j.pcd.2021.03.002
- Fujiati, I. I., Damanik, H. A., Bachtiar, A., Nurdin, A. A., & Ward, P. (2017). Development and validation of prediabetes risk score for predicting prediabetes among Indonesian adults in primary care: Cross-sectional diagnostic study. Interventional medicine & applied science, 9(2), 76–85. https://doi.org/10.1556/1646.9.2017.2.18
- Huang, Y., Cai, X., Mai, W., Li, M., & Hu, Y. (2016). Association between prediabetes and risk of cardiovascular disease and all cause mortality: systematic review and meta-analysis. BMJ (Clinical research ed.), 355, i5953. https://doi.org/10.1136/bmj.i5953
