Tidak semua ikan cocok diberikan dalam MPASI. Kandungan merkuri, metode pengolahan, dan tingkat kematangan perlu diperhatikan agar ikan tetap aman dikonsumsi bayi.
Masalahnya, informasi tentang ikan yang tidak boleh untuk MPASI sering kali terlalu umum. Beberapa ikan dianggap harus dihindari, padahal risikonya berbeda bergantung jenis dan sumber ikannya.
Bahaya Kandungan Merkuri Ikan pada Bayi
Ikan yang harus dihindari saat MPASI biasanya ialah ikan dengan kadar merkuri yang tinggi.
Merkuri di laut sendiri tidak langsung berbahaya. Yang perlu diwaspadai adalah metilmerkuri atau ubahan bentuk merkuri hasil kerja bakteri di sedimen laut. Bentuk ini bisa terakumulasi dalam rantai makanan dan mencapai kadar lebih tinggi pada jenis ikan tertentu.
Adapun, beberapa poin penting yang perlu Anda pahami adalah sebagai berikut.
- Metilmerkuri sulit dibuang setelah masuk tubuh. Zat ini menempel di daging ikan dan tidak bisa hilang dengan mencuci maupun memasak.
- Kadar menumpuk melalui rantai makanan. Plankton menyerap sedikit merkuri dari air, ikan kecil makan plankton, ikan sedang makan ikan kecil, lalu ikan besar, seperti hiu, tuna, dan todak, duduk di puncak dengan kadar berlipat-lipat. Proses ini disebut biomagnifikasi.
- Bayi lebih rentan dari orang dewasa. Menurut WHO, metilmerkuri akan menembus sawar darah-otak. Selain itu, sistem detoksifikasi atau pengeluaran racun pada tubuh bayi belum matang, sehingga zat yang masuk cenderung menumpuk.
- Otak bayi paling rentan di tahun pertama. Hal ini karena otak bayi sedang tumbuh paling pesat selama periode itu.
- Batas maksimum merkuri. Menurut Peraturan BPOM No. 9 Tahun 2022, 0,5 mg/kg untuk ikan pada umumnya dan 1,0 mg/kg untuk ikan predator, seperti cucut, tuna, dan marlin. Angka ini batas populasi umum, bukan takaran khusus bayi.
Risiko merkuri muncul dari paparan berulang dalam jangka panjang, bukan hanya dari satu suapan saja. Penting untuk tidak merasa khawatir secara berlebihan.
Jika si Kecil pernah mencicipi ikan tinggi merkuri sekali dua kali, yang perlu dilakukan hanya mengganti pilihan ke depannya.
Seperti Apa Ikan yang Tidak Boleh untuk MPASI?
Ikan yang tidak boleh untuk MPASI adalah ikan yang berisiko merugikan bayi di bawah 1 tahun karena empat alasan, yakni kadar merkuri tinggi, disajikan mentah atau setengah matang, diawetkan dengan garam, atau dikemas dengan tambahan natrium.
Daftar Ikan yang Tidak Boleh untuk MPASI
Terdapat lima kelompok ikan yang harus dihindari untuk bayi MPASI. Dua kelompok terakhir justru paling sering ditemukan di dapur rumah tangga Indonesia.
1. Ikan Predator Besar dengan Merkuri Tinggi
Tujuh jenis ikan berikut masuk kategori Choices to Avoid dari FDA, artinya sama sekali tidak dianjurkan untuk bayi, anak kecil, dan ibu hamil (FDA, 2022).
|
Jenis Ikan |
Kandungan Merkuri |
|
Tilefish dari Teluk Meksiko |
1,123 ppm |
|
Ikan tidak (swordfish) |
0,995 ppm |
|
Ikan hiu (cucut) |
0,979 ppm |
|
King mackerel dari Teluk Meksiko |
0,730 ppm |
|
Tuna mata besar (bigeye tuna) |
0,689 ppm |
|
Orange roughy |
0,571 ppm |
|
Marlin |
0,485 ppm |
*) Sumber: U.S. Food and Drug Administration (2022), Mercury levels in commercial fish and shellfish (1990–2012).
Sebagai pembanding, beberapa pilihan ikan yang aman dengan merkuri rendah, yakni ikan kembung (0,050 ppm), salmon (0,022 ppm), teri (0,016 ppm), dan sarden (0,013 ppm).
Satu porsi ikan todak menyumbang merkuri sekitar 45 kali lipat dibanding ikan porsi salmon dengan berat yang sama. Karena itu, jenis ikan tersebut sebaiknya tidak diberikan sama sekali, bukan sekadar dibatasi.
2. Ikan Mentah atau Setengah Matang
Sashimi, sushi, ceviche, dan ikan asap dingin tidak boleh diberikan ke bayi dan anak kecil. FDA memasukkan ikan mentah sebagai makanan yang perlu dihindari oleh kelompok usia ini, karena sistem kekebalan tubuh mereka masih berkembang.
Risiko berasal dari infeksi bakteri (Vibrio, Listeria, dan Salmonella) serta parasit (Anisakis). Pembekuan dapat membunuh sebagian parasit, tetapi tidak dapat menghilangkan semua bakteri. Karena itu, ikan perlu dimasak hingga suhu internal mencapai 63 derajat Celsius untuk membunuh sebagian besar bakteri dan parasit berbahaya.
3. Ikan Asin dan Awetan
Ikan asin dan olahan ikan yang diawetkan dengan garam sebaiknya tidak jadi pilihan untuk MPASI bayi. Kandungan garamnya bisa sangat tinggi, sehingga berisiko membuat asupan natrium pada bayi berlebihan.
Yang termasuk dalam kelompok ini, antara lain:
- ikan asin kering,
- ikan peda,
- ikan pindang bergaram,
- dendeng ikan, serta
- ikan asap komersial.
Studi oleh Yuniati & Almasyhuri (1994) dalam jurnal Nutrition and Food Research terhadap 10 jenis ikan asin kering menemukan kadar garam sebesar 5,7–21,2% dari berat ikan. Itu artinya, per 10 gram ikan asin mengandung sekitar 0,57–2,12 gram garam.
Padahal, NHS merekomendasikan asupan garam kurang dari 1 gram per hari untuk bayi di bawah 1 tahun. Jadi, porsi kecil ikan asin saja dapat menyumbang sebagian besar, bahkan melebihi batas asupan garam harian pada bayi.
4. Ikan Kalengan Berbumbu
Ikan kalengan, seperti sarden dan mackerel, sebenarnya dapat jadi sumber protein. Namun, produk yang dikemas dalam saus tomat, saus cabai, atau bumbu lainnya harus diperhatikan karena mengandung garam, gula, dan bahan lainnya yang berlebihan untuk MPASI.
Jika ingin memakai ikan kalengan, pilih produk dengan kandungan natrium rendah. Tiris dan bilas dengan air matang sebelum diolah, lalu berikan dalam porsi kecil. Untuk MPASI, ikan segar yang diolah sendiri tetap jadi pilihan untuk menjaga kesehatan bayi.
5. Ikan dari Perairan Tercemar
Ikan yang berasal dari perairan tercemar berisiko mengandung logam berat dan kontaminan lain, meskipun jenis ikannya sendiri tergolong aman untuk MPASI.
Hindari ikan yang berasal dari daerah dengan risiko pencemaran tinggi, yakni di sekitar area penambangan, kawasan industri, atau muara sungai yang tercemar limbah industri. Zat-zat berbahaya dari lingkungan dapat terakumulasi dalam tubuh ikan yang meningkatkan risiko paparan kontaminan pada bayi.
Baca Juga: 7 Ikan yang Bagus untuk MPASI Bayi dan Kandungan Gizinya
Catatan: Tenggiri Lokal Bukan King Mackerel!
Jangan langsung menyamakan king mackerel dengan ikan tenggiri yang biasa dikonsumsi. Keduanya memang masih satu genus, tetapi merupakan spesies yang berbeda.
- King mackerel: Scomberomorus cavalla, berasal dari perairan Atlantik dan Teluk Meksiko.
- Tenggiri lokal: Scomberomorus commerson, tersebar di perairan Indo-Pasifik.
Perbedaan spesies ini penting, karena kandungan merkuri dalam ikan dapat berbeda. Data FDA mencatat kadar merkuri king mackerel sekitar 0,730 ppm, sehingga memasukkannya ke kategori ikan yang perlu dihindari.
Di sisi lain, pengujian terhadap ikan tenggiri lokal beku oleh Poltekkes Kemenkes Jakarta II menemukan kadar merkuri lebih rendah, yakni 0,1112 mg/kg. Artinya, kadar merkuri masih di bawah batas maksimum 0,5 mg/kg yang ditetapkan Badan POM.
Jadi, tenggiri lokal tidak perlu otomatis masuk daftar ikan yang dilarang untuk MPASI hanya karena sering diterjemahkan sebagai “king mackerel”.
Namun, karena tenggiri merupakan ikan berukuran relatif besar, sebaiknya diberikan secara bervariasi dan tidak menjadi satu-satunya sumber ikan dalam menu bayi. Jenis ikan lainnya, seperti kembung atau teri segar, dapat menjadi pilihan lain yang relatif lebih aman.
Jenis Ikan yang Bagus untuk MPASI

Kabar baiknya, daftar ikan aman jauh lebih panjang dari daftar berbahaya. Baik pilihan ikan laut untuk MPASI maupun ikan air tawar, sebagian besar ikan di pasar Indonesia justru termasuk golongan merkuri rendah dan aman untuk bayi.
Berikut adalah pilihan terbaik untuk MPASI, mulai dari yang paling mudah Anda dapatkan.
|
Jenis Ikan |
Kenapa Cocok |
Catatan Penyajian |
|
Kembung |
Ikan kecil berumur pendek, omega-3 tinggi, harga terjangkau |
Duri halus banyak — suwir dan raba dagingnya dua kali |
|
Lele |
Ikan air tawar, merkuri rata-rata 0,024 ppm, duri besar dan mudah dipisahkan |
Kukus atau tim; buang bagian kulit yang berlendir |
|
Patin (dori) |
Tekstur sangat lembut, rasa ringan, duri sedikit |
Cocok untuk perkenalan ikan pertama usia 6 bulan |
|
Nila dan mujair |
Merkuri tilapia rata-rata 0,013 ppm, mudah didapat |
Fillet dan periksa duri di bagian punggung |
|
Bandeng |
Protein tinggi, kalsium baik untuk tulang |
Duri sangat banyak — pakai presto atau saring halus |
|
Teri segar |
Sumber kalsium dan DHA, merkuri 0,016 ppm |
Pastikan versi tawar/segar, bukan teri asin kering |
|
Salmon |
Merkuri 0,022 ppm, DHA tinggi |
Harga tinggi; boleh diselang-seling dengan ikan lokal |
Prinsip memilih ikan untuk MPASI sebenarnya cukup mudah. Utamakan ikan dengan risiko paparan merkuri rendah dan variasikan jenisnya agar bayi mendapat beragam nutrisi.
- Pilih ikan berukuran kecil dan berumur relatif pendek yang punya waktu lebih singkat untuk mengakumulasi merkuri dibandingkan ikan predator besar.
- Kembung, teri, sarden, dan selar ialah contoh ikan laut untuk MPASI yang baik untuk dikonsumsi rutin, karena posisinya di bawah rantai makanan.
- Ikan air tawar, seperti lele, nila, dan patin, biasanya lebih aman karena tidak terpapar merkuri laut dalam jumlah signifikan.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan pengenalan ikan sejak usia 6 bulan dan tidak perlu menunda sampai 1 tahun. Menunda pengenalan ikan tidak terbukti mampu mencegah alergi. Variasikan lauknya lewat ide menu MPASI agar si Kecil tidak bosan.
Cara Memilih Ikan untuk MPASI yang Segar
Menghindari daftar ikan berbahaya di atas baru separuh pekerjaan. Separuh sisanya ada di cara memilih ikan untuk MPASI yang segar dan teknik memasaknya yang tepat.
Saat membeli ikan, perhatikan beberapa tanda berikut ini.
- Mata jernih dan menonjol, bukan keruh atau cekung.
- Insang berwarna merah segar, tidak kecokelatan atau berlendir pekat.
- Daging terasa kenyal dan kembali ke bentuk semula saat ditekan.
- Aroma segar seperti laut, bukan bau amis yang menyengat atau asam.
- Pilih ikan di rak pendingin, karena ikan segar yang terlalu lama berada pada suhu ruang lebih berisiko terkontaminasi bakteri.
Cara Mengolah Ikan untuk MPASI dengan Aman
Memilih ikan yang aman saja belum cukup bila teknik memasaknya salah. Berikut ini prinsip pengolahan yang meminimalkan risiko sekaligus menjaga kandungan nutrisinya.
- Masak hingga matang sempurna. Masak hingga internal mencapai setidaknya 63 derajat Celsius, ditandai daging berwarna putih dan mudah disuwir dengan garpu.
- Pilih metode memasak yang sehat. Utamakan kukus, tim, rebus, atau panggang, karena menggoreng menambah lemak dan merusak sebagian omega-3.
- Perhatikan bumbu. Hindari tambahan garam, kaldu blok, atau kecap asin ke dalam MPASI untuk bayi di bawah 1 tahun.
- Periksa duri ikan. Raba daging ikan dua kali guna memastikan tidak ada duri halus tertinggal dan berisiko membuat bayi tersedak.
- Perkenalkan ikan perlahan. Berikan satu jenis ikan baru dengan porsi kecil terlebih dahulu, lalu amati reaksi alergi selama 2–3 hari sebelum mencoba jenis lain.
- Sajikan segera. Sisa MPASI ikan yang sudah dihangatkan ulang ada baiknya tidak disimpan kembali.
FDA memberi acuan porsi anak untuk usia 1–3 tahun sekitar 28 gram per sajian, sebanyak 2 sampai 3 kali seminggu. Untuk bayi usia 6–12 bulan belum ada angka resmi yang setara, sehingga porsi MPASI bayi 6 bulan harus disesuaikan dengan daya terima si Kecil.
Baca Juga: Fase Tumbuh Kembang Bayi 0–12 Bulan yang Perlu Diketahui
Pilihan Suplemen Pendukung MPASI Bayi di Natural Farm
Daftar ikan berisiko justru banyak diisi ikan yang paling tinggi omega-3. Salmon dan sarden segar memang aman, tapi tidak semua bayi mau makan ikan setiap hari dan tidak semua orang tua bisa selalu menyediakan ikan segar berkualitas.
Suplemen berperan mengisi celah ini. Namun, tidak semua suplemen cocok untuk bayi usia 6 bulan saat mulai MPASI, karena sebagian baru boleh diberikan setelah usia 1 tahun.
Natural Farm punya pilihan produk pendukung MPASI yang bisa mulai diberikan sejak usia 6 bulan. Simak rekomendasi yang dikelompokkan berdasarkan usia dan kebutuhan bayi.
1. ChildLife Cod Liver Oil

Beli ChildLife Cod Liver Oil 237 ml di Natural Farm
Salmon liar dan sarden segar tidak selalu tersedia, dan harganya di kota besar bisa 3–4 kali lipat dari ikan lokal. ChildLife Cod Liver Oil 237 ml menjawab kebutuhan ini dengan minyak hati ikan kod Arktik yang diproses distilasi molekuler, yaitu teknik pemurnian farmasi yang memisahkan omega-3 dari PCB, dioksin, dan logam berat.
Rasa Natural Strawberry-nya dirancang menyamarkan aftertaste amis yang menjadi alasan paling sering bayi menolak suplemen minyak ikan. Bagi banyak orang tua, rasa inilah yang menentukan apakah suplemen mampu bertahan di rutinitas harian si Kecil.
|
Aspek |
Detail |
|
Kandungan Utama |
Purified Arctic Cod Liver Oil (DHA, EPA), Vitamin A, D, E. |
|
Manfaat |
Mendukung perkembangan otak, kesehatan jantung, dan pertumbuhan tulang anak. |
|
Aturan Pakai |
|
|
Isi & Rasa |
237 ml (47 sajian), rasa Natural Strawberry, tanpa pewarna dan pemanis buatan. |
2. Nordic Baby DHA

Beli Nordic Baby DHA 60 ml di Natural Farm
Salah satu tantangan memberi suplemen pada bayi MPASI adalah dosis yang tepat. Terlalu sedikit tidak berdampak, terlalu banyak berisiko overdosis vitamin larut lemak. Nordic Baby DHA menyelesaikan ini dengan dosis berbasis berat badan yang mudah dihitung, bukan berdasarkan usia.
Sediaan cairnya bisa diteteskan langsung ke pipi bagian dalam atau dicampurkan ke MPASI yang sudah dingin. Hindari mencampur ke dalam MPASI yang masih panas, karena mampu merusak DHA. Praktis untuk bayi yang sedang di fase pilih-pilih makanan.
|
Aspek |
Detail |
|
Kandungan Utama |
DHA dari Purified Arctic Cod Liver Oil, EPA, Vitamin A, D3. |
|
Manfaat |
Mendukung perkembangan otak, penglihatan, dan sistem imun bayi. |
|
Aturan Pakai |
|
|
Isi & Rasa |
60 ml, sediaan cair, rasa netral. |
3. ChildLife Multivitamin & Mineral

Beli ChildLife Multivitamin & Mineral 237 ml di Natural Farm
Porsi MPASI di awal pengenalan umumnya sangat kecil dan variasi bahan belum lengkap. ChildLife Multivitamin & Mineral hadir dalam sediaan cair dengan kandungan lebih dari 16 nutrisi esensial, termasuk vitamin A, C, D, E, B kompleks, kalsium, magnesium, dan zinc.
Untuk bayi usia 6–12 bulan, aturan pakainya wajib mengikuti anjuran dokter, bukan dosis anak yang lebih besar. Setelah usia 1 tahun, dosis rutinnya 1–2 sendok teh per hari. Formulanya bebas gluten, alkohol, perasa, pewarna, dan pemanis buatan.
|
Aspek |
Detail |
|
Kandungan Utama |
Lebih dari 16 vitamin & mineral esensial (Vit A, C, D, E, B kompleks, kalsium, magnesium, zinc). |
|
Manfaat |
Melengkapi kebutuhan mikronutrien harian saat variasi MPASI masih terbatas. |
|
Aturan Pakai |
|
|
Isi & Rasa |
237 ml (47 sajian), sediaan cair, bebas gluten, alkohol, perasa, pewarna, dan pemanis buatan. |
4. ChildLife Liquid Calcium with Magnesium

Beli ChildLife Liquid Calcium with Magnesium 473 ml di Natural Farm
Setelah lulus MPASI, kebutuhan kalsium meningkat pesat karena laju pertumbuhan tulang mempercepat. Ikan kaya kalsium, misal bandeng presto dan teri segar, sebenarnya sudah cukup untuk sebagian besar anak, tapi tidak semua anak mau makan ikan setiap hari.
ChildLife Liquid Calcium with Magnesium ini menggabungkan kalsium dengan magnesium, zinc, dan vitamin D. Kombinasi ini penting karena kalsium sendirian tidak diserap optimal tanpa magnesium dan vitamin D sebagai kofaktor.
|
Aspek |
Detail |
|
Kandungan Utama |
Kalsium, Magnesium, Zinc, Vitamin D. |
|
Manfaat |
Mendukung pertumbuhan tulang dan gigi, kekuatan otot, dan fungsi imun. |
|
Aturan Pakai |
|
|
Isi & Rasa |
474 ml, sediaan cair, rasa Natural Orange, tanpa pemanis buatan. |
5. Wellness Vitamin D3 500 IU Drops

Beli Wellness Vitamin D3 500 IU Drops 15 ml di Natural Farm
Vitamin D bekerja sinergis dengan kalsium untuk penyerapan lebih optimal. Anak Indonesia sebenarnya beruntung punya paparan matahari melimpah, tetapi kebiasaan modern (indoor time, sunscreen, dan waktu bermain di luar berkurang) membuat defisiensi vitamin D justru meningkat.
Wellness Vitamin D3 500 IU Drops hadir dalam bentuk tetes yang praktis digunakan. Produk ini dapat menjadi pilihan suplemen vitamin D bagi anak sesuai usia dan kebutuhan, dengan Euro Dropper yang membantu memberikan dosis secara lebih terukur.
|
Aspek |
Detail |
|
Kandungan Utama |
Vitamin D3 (Cholecalciferol) 500 IU (12,5 mcg) per tetes. |
|
Manfaat |
Mendukung kesehatan tulang & gigi, fungsi imun, dan kekuatan otot |
|
Aturan Pakai |
|
|
Isi & Rasa |
15 ml (454 sajian), sediaan tetes, rasa Raspberry. |
*) Disclaimer: Suplemen merupakan pelengkap asupan gizi bayi selama fase MPASI, bukan pengganti ASI atau makanan bergizi seimbang. Suplemen tidak menggantikan kebutuhan nutrisi dari makanan harian. Konsultasikan dengan dokter sebelum memberi suplemen kepada bayi, terutama jika bayi memiliki kondisi kesehatan tertentu.



