Penyakit GERD mengganggu kualitas hidup karena gejalanya sering muncul setelah makan atau saat berbaring. Dada terasa panas, mulut terasa asam, dan terasa seperti ada benjolan di tenggorokan bisa membuat aktivitas sehari-hari terasa tidak nyaman.
GERD adalah gangguan pencernaan yang terjadi saat asam lambung naik ke kerongkongan secara berulang. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini mampu memicu peradangan hingga meningkatkan risiko komplikasi pada kerongkongan.
Apa Itu Penyakit GERD?
Penyakit GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) adalah suatu kondisi ketika isi lambung, termasuk asam lambung, naik kembali ke kerongkongan sehingga menimbulkan gejala.
Kondisi ini disebabkan oleh katup pada bagian bawah kerongkongan atau lower esophageal sphincter (LES) yang melemah atau tidak menutup dengan baik.
Naiknya asam lambung sesekali sebenarnya masih tergolong normal dan bisa dialami siapa saja. Namun, jika refluks terjadi berulang, mengganggu aktivitas harian, atau menyebabkan peradangan pada kerongkongan, kondisi tersebut sudah termasuk GERD.
GERD berkepanjangan yang tidak ditangani dapat meningkatkan risiko komplikasi, meliputi peradangan jaringan kerongkongan (esophagitis), penyempitan kerongkongan (esophageal stricture), hingga perubahan prakanker pada kerongkongan (Barrett's esophagus).
Baca Juga: 15 Makanan untuk Asam Lambung agar Tidak Mudah Kambuh
Tanda dan Gejala Penyakit GERD
Gejala penyakit GERD yang paling umum adalah heartburn, sensasi panas atau terbakar di dada yang dapat menjalar hingga ke leher atau tenggorokan. Keluhan ini biasanya muncul setelah makan ataupun saat membungkuk dan berbaring.
Selain heartburn, terdapat beberapa ciri-ciri penyakit GERD lain sebagai berikut.
- Regurgitasi, naiknya asam lambung atau makanan kembali ke tenggorokan.
- Mual, yang dapat dialami sebagian penderita ketika refluks sedang kambuh.
- Mulut terasa asam dan pahit.
- Nyeri perut bagian atas atau dada.
- Sulit menelan (disfagia) atau terasa nyeri saat menelan akibat iritasi kerongkongan.
- Suara serak dan radang tenggorokan.
- Sensasi seperti ada benjolan di tenggorokan (globus sensation).
- Batuk kronis, batuk parah yang terjadi terus-menerus.
Gejala GERD sering memburuk setelah makan dalam porsi besar, mengonsumsi makanan tinggi lemak atau pedas, minum kopi atau alkohol, serta langsung berbaring setelah makan.
Untuk beberapa orang, refluks asam juga dapat memicu batuk kronis, memperparah asma, atau menyebabkan gangguan tidur akibat gejala yang muncul pada malam hari.
Beberapa ciri GERD terlihat mirip gangguan pencernaan pada umumnya. Karena itu, Anda bisa melakukan Skrining Pencernaan di Natural Farm guna mengenali kondisi kesehatan pencernaan dan gejala gangguan yang mungkin dialami.
Perbedaan Penyakit GERD dan Maag

Penyakit GERD dan maag sering dianggap sama karena dapat memicu rasa tidak nyaman pada saluran cerna bagian atas.
Padahal, keduanya merupakan kondisi yang berbeda, baik dari penyebab, lokasi gangguan, gingga gejala yang ditimbulkan. Agar lebih paham perbedaan GERD dan maag, Anda bisa melihat tabel di bawah ini.
|
Aspek |
GERD |
Maag |
|
Lokasi gangguan |
Kerongkongan (esofagus). |
Lapisan atau dinding lambung. |
|
Penyebab utama |
Katup bagian bawah kerongkongan (lower esophageal sphincter) melemah yang menyebabkan isi lambung naik ke kerongkongan. |
Peradangan lapisan lambung karena infeksi H. pylori, makanan pemicu, dan konsumsi obat NSAID jangka panjang. |
|
Gejala umum |
Regurgitasi, heartburn, disfagia, mual, mulut terasa asam dan pahit, sensasi seperti ada benjolan di tenggorokan. |
Nyeri ulu hati, mual, begah, lemas, serta penurunan berat badan dan nafsu makan. |
|
Kapan gejala muncul? |
Sering memburuk setelah makan porsi besar, konsumsi makanan pemicu, membungkuk, berbaring, atau pada malam hari. |
Dapat muncul saat perut kosong, berbaring setelah makan, atau setelah konsumsi makanan pemicu. |
|
Risiko Komplikasi |
Esofagitis, penyempitan kerongkongan, Barrett's esophagus. |
Tukak lambung, perdarahan lambung, anemia. |
Penyebab dan Faktor Risiko Penyakit GERD
Penyebab GERD adalah melemahnya sfingter esofagus bawah, yaitu katup yang mencegah isi lambung naik kembali ke kerongkongan. Akibatnya, asam lambung mengiritasi dinding kerongkongan dan memicu berbagai gejala GERD.
Beberapa faktor risiko akan meningkatkan terjadinya GERD, antara lain pola makan, kondisi medis tertentu, penggunaan obat-obatan, dan kebiasaan sehari-hari yang kurang sehat.
1. Pola Makan
Beberapa jenis makanan dan kebiasaan makan berisiko memicu atau memperburuk gejala GERD. Meski begitu, tidak semua penderita memiliki pemicu yang sama sehingga penting untuk mengenali makanan yang membuat gejala Anda kambuh.
Pola makan yang dapat memicu GERD, antara lain:
- makan dalam porsi besar,
- makan terlalu malam,
- makan terlalu cepat,
- makanan tinggi lemak,
- makanan pedas atau asam, serta
- mengonsumsi kopi, teh, cokelat, minuman bersoda, dan alkohol.
Mencatat makanan yang dikonsumsi setiap hari dan memperhatikan reaksinya pada tubuh dapat membantu Anda mengetahui pemicu pribadi.
2. Kondisi Medis
Beberapa kondisi kesehatan dapat meningkatkan tekanan di dalam perut atau mengganggu fungsi sfingter esofagus bawah, sehingga asam lambung mudah naik ke kerongkongan.
Beberapa kondisi medis yang meningkatkan risiko GERD, antara lain:
- obesitas atau kelebihan berat badan,
- usia 50 tahun ke atas saat fungsi sfingter esofagus bawah menurun,
- hernia hiatus,
- penyakit celiac,
- asma,
- kehamilan, serta
- pengosongan lambung lambat (gastroparesis), termasuk pada penderita diabetes.
Jika Anda memiliki salah satu kondisi tersebut dan sering mengalami keluhan refluks asam, periksakan ke dokter agar penyebabnya dapat dipastikan dan ditangani dengan tepat.
3. Obat-obatan
Beberapa obat-obatan dapat memicu atau memperburuk gejala GERD, karena mengurangi tekanan sfingter esofagus bawah. Namun, efek ini tidak selalu terjadi pada setiap orang.
Menurut Mayo Clinic, beberapa obat-obatan yang dapat memicu GERD, antara lain:
- calcium channel blockers,
- antibiotik, seperti tetracycline dan clindamycin,
- nitrat,
- quinidine,
- suplemen zat besi,
- bifosfonat oral, seperti alendronat, ibandronat, dan risedronat,
- obat antikolinergik, seperti oxybutynin,
- antidepresan trisiklik, seperti amitriptyline dan doxepin, serta
- obat pereda nyeri, seperti ibuprofen dan aspirin.
Segera konsultasi dengan dokter saat gejala GERD muncul setelah memakai obat tertentu, untuk menentukan apakah dosis perlu disesuaikan atau pemberian obat perlu dihentikan.
4. Gaya Hidup
Kebiasaan sehari-hari juga punya peran besar dalam memicu GERD. Kebiasaan yang perlu Anda hindari karena dapat meningkatkan risiko terjadinya GERD, antara lain:
- merokok,
- konsumsi alkohol berlebihan,
- stres berlebihan,
- kurang melakukan aktivitas fisik,
- tidur atau berbaring setelah makan, serta
- mengenakan pakaian yang terlalu ketat di area perut.
Anda bisa memperhatikan dan menghindari kebiasaan-kebiasaan tersebut untuk membantu mengurangi risiko kambuhnya gejala GERD.
Baca Juga: 12 Cara Mengatasi Asam Lambung Naik secara Alami & Tepat
Cara Mengobati Penyakit GERD

Pengobatan GERD bertujuan untuk meredakan gejala, menyembuhkan peradangan pada kerongkongan, dan mencegah komplikasi.
Berdasarkan panduan American College of Gastroenterology (2022), penanganan GERD dapat dilakukan melalui perubahan gaya hidup, obat-obatan, hingga tindakan medis.
1. Pengobatan Alami
Perubahan gaya hidup menjadi langkah awal yang dianjurkan untuk membantu mengurangi refluks asam. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.
- Menurunkan berat badan jika mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.
- Menghindari makan 2–3 jam sebelum tidur atau berbaring.
- Meninggikan posisi kepala saat tidur menggunakan wedge pillow atau meninggikan kepala tempat tidur.
- Tidur menghadap ke sisi kiri untuk membantu mengurangi refluks pada malam hari.
- Menghindari pakaian yang terlalu ketat di area perut.
- Membatasi makanan pemicu, seperti makanan berlemak, pedas, asam, kopi, teh, cokelat, peppermint, minuman bersoda, dan alkohol.
- Berhenti merokok karena dapat melemahkan fungsi sfingter esofagus bawah.
2. Pengobatan Medis
Jika perubahan gaya hidup belum cukup, dokter dapat meresepkan obat yang sesuai tingkat keparahan GERD. Pilihan pengobatan sebagai berikut.
- Proton Pump Inhibitors (PPI), seperti omeprazole dan pantoprazole, sebagai terapi utama untuk menurunkan produksi asam lambung. Sebaiknya diminum 30–60 menit sebelum sarapan.
- Potassium-Competitive Acid Blockers (P-CABs), seperti vonoprazan, yang bekerja lebih cepat dalam menekan produksi asam lambung.
- H2 receptor blocker, seperti famotidine, untuk gejala ringan atau sebagai terapi tambahan pada malam hari.
- Antasida atau alginat untuk meredakan gejala dengan cepat saat refluks kambuh.
- Sucralfate, yang umumnya diberikan pada ibu hamil dengan GERD.
- Baclofen, yang dapat dipertimbangkan pada kondisi tertentu jika gejala belum membaik dengan terapi utama.
3. Tindakan Medis
Pada sebagian pasien, obat-obatan saja mungkin belum mampu mengendalikan gejala atau terjadi komplikasi akibat GERD. Pada kondisi ini , dokter dapat mempertimbangkan tindakan bedah maupun prosedur endoskopi setelah melalui pemeriksaan yang menyeluruh.
Beberapa tindakan medis untuk penyakit GERD yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut.
- Fundoplikasi laparoskopi, yakni operasi untuk memperkuat katup antirefluks dengan melilitkan bagian atas lambung ke esofagus bawah.
- Magnetic Sphincter Augmentation (LINX), pemasangan cincin magnet kecil di sekitar sfingter esofagus bawah untuk membantu mencegah refluks.
- Roux-en-Y Gastric Bypass (RYGB), operasi pengecilan kantong lambung yang akan disarankan pada pasien GERD dengan obesitas berat.
- Transoral Incisionless Fundoplication (TIF), prosedur endoskopi untuk memperbaiki katup antirefluks tanpa sayatan pada perut.
Sebelum tindakan dilakukan, dokter akan melakukan pemeriksaan, meliputi endoskopi, pH monitoring 24 jam, atau manometri esofagus, guna memastikan diagnosis dan menentukan terapi yang paling sesuai.
Bantu Jaga Lambung Tetap Nyaman Setiap Hari
Mengelola GERD tidak berhenti pada perubahan pola makan dan gaya hidup saja. Apabila perlu, Anda bisa melengkapi ikhtiar menjaga kesehatan dan kenyamanan lambung dengan mengonsumsi suplemen yang tepat.
Berikut beberapa pilihan suplemen dari Natural Farm untuk membantu menjaga kesehatan lambung Anda.
1. Natural Factors S’Digest

Beli Natural Factors S’Digest 90 Tablets di Natural Farm
Lambung yang sering perih, begah, atau tidak nyaman tentu berisiko mengganggu aktivitas sehari-hari. Natural Factors S’Digest dirancang untuk membantu menjaga kenyamanan saluran pencernaan, terutama saat lambung sedang sensitif.
Kombinasi ekstrak herbal (Fennel, Anise, dan Caraway) bermanfaat membantu melindungi lambung dari bakteri jahat serta membantu mengurangi iritasi saluran pencernaan yang dapat memicu heartburn dan perut kembung.
Kenyamanan lambung tetap perlu dijaga dengan pola makan teratur, menghindari makanan pemicu, dan mengelola stres. Jadikan suplemen ini sebagai pelengkap kebiasaan sehat, bukan pengganti pengobatan GERD yang dianjurkan dokter.
2. Kyolic 102 Candida Cleanse & Digestive

Beli Kyolic 102 Candida Cleanse & Digestive 100 Capsules di Natural Farm
Menjaga keseimbangan saluran cerna adalah salah satu langkah penting untuk mendukung kesehatan pencernaan secara menyeluruh. Kyolic 102 Candida Cleanse & Digestive punya kombinasi berbagai bahan alami dalam satu formula praktis.
Kandungan Aged Garlic Ekstrak (AGE) serta ekstrak jahe yang digabungkan dengan enzim pencernaan, seperti Glucanase, Protease, dan Lipase, bekerja sinergis menjaga kesehatan pencernaan hingga mendukung proses pencernaan makanan agar tetap optimal.
Saluran pencernaan yang sehat dibangun dari kebiasaan baik, dari pola makan hingga gaya hidup sehat. Suplemen ini dapat membantu melengkapi kebutuhan tersebut, tetapi tidak menggantikan pengobatan jika GERD sering kambuh.
3. Natures Health Probiotic Complex

Beli Natures Health Probiotic Complex 60 Capsules di Natural Farm
Keseimbangan bakteri baik usus memiliki peran penting guna menjaga fungsi saluran cerna, termasuk untuk penderita GERD, yang sistem pencernaannya rentan mengalami gangguan keseimbangan mikrobiota.
Natures Health Probiotic Complex mengandung 8 miliar sel hidup (CFU) per kapsulnya dari kombinasi probiotik Lactobacillus acidophilus LA-14 dan Bifidobacterium lactis BL-04 untuk membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus.
Probiotik bekerja lebih optimal ketika diimbangi dengan konsumsi makanan tinggi serat, pola makan teratur, dan kebiasaan hidup sehat lainnya. Suplemen adalah pelengkap pola makan sehat, bukan pengganti.
4. Natures Health Licorice Extract

Beli Natures Health Licorice Extract 60 Tablets di Natural Farm
Jika lambung sering terasa sensitif, menjaga kesehatan lapisan lambung menjadi salah satu langkah yang tidak boleh diabaikan. Natures Health Licorice Extract dapat menjadi pilihan pelengkap untuk mendukung kesehatan saluran pencernaan.
Kandungan Licorice Extract dapat membantu meredakan rasa tidak nyaman di lambung dan mendukung kenyamanan lapisan saluran pencernaan. Formulasi herbal ini dirancang untuk melengkapi ikhtiar menjaga kesehatan pencernaan sehari-hari.
Menjaga kesehatan lambung memerlukan pendekatan menyeluruh. Selain suplemen, tetap terapkan pola makan ramah GERD dan ikuti pengobatan yang direkomendasikan dokter.
5. Nutriwell Probiotics + Enzymes

Beli Nutriwell Probiotics + Enzymes 60 Capsules di Natural Farm
Saluran pencernaan yang sehat butuh keseimbangan bakteri baik agar proses pencernaan berjalan optimal. Nutriwell Probiotics + Enzymes menggabungkan probiotik dan enzim pencernaan dalam satu produk yang praktis dikonsumsi setiap hari.
Kombinasi tiga strain probiotik, dari Lactobacillus Acidophilus La-14, Bifidobacterium Lactis Bl-04, hingga Bifidobacterium Longum Bl-05, serta enzim Lipase dan Protease, membantu menjaga keseimbangan mikroorganisme baik di usus sekaligus mendukung pengoptimalan penyerapan nutrisi.
Setiap orang akan merasakan manfaat yang berbeda. Oleh sebab itu, jadikan suplemen ini sebagai pendamping gaya hidup sehat untuk membantu menjaga kesehatan pencernaan, bukan sebagai satu-satunya solusi mengatasi GERD.



