Beberapa orang mengira kalau kekurangan zat besi hanya menyebabkan anemia. Lebih dari itu, defisiensi mineral ini juga dapat berdampak pada fungsi jantung, otak, hingga kekebalan tubuh. Itu sebabnya, ada banyak penyakit akibat kurang zat besi yang perlu diwaspadai.
Memahami akibat dari kekurangan zat besi sejak dini membantu Anda menentukan langkah pencegahan yang tepat sebelum kondisi ini berkembang lebih serius.
Seberapa Penting Zat Besi untuk Tubuh?
Zat besi adalah komponen utama hemoglobin (Hb), yakni protein di dalam sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Tanpa kadar zat besi yang cukup, sel-sel tubuh tidak akan mendapatkan suplai oksigen yang optimal.
Menurut World Health Organization (WHO), defisiensi zat besi menjadi kekurangan zat gizi mikro atau mikronutrien paling umum di dunia, terutama pada anak-anak dan ibu hamil.
Perlu diingat bahwa zat besi adalah mineral esensial, artinya tubuh tidak bisa memproduksi sendiri dan mencukupi kebutuhan nutrisi ini. Konsumsi makanan yang tinggi zat besi hingga suplemen zat besi bila dibutuhkan penting untuk mencukupi kebutuhan harian.
Kebutuhan zat besi berbeda-beda, bergantung usia, jenis kelamin, serta tahapan kehidupan seseorang. Berikut adalah tabel ringkasan berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) dari Kementerian Kesehatan RI.
|
Kelompok |
Umur/Kondisi |
Kebutuhan Zat Besi per Hari |
|
Bayi & Anak |
0–5 bulan |
0,3 mg |
|
6–11 bulan |
11 mg |
|
|
1–3 tahun |
7 mg |
|
|
4–9 tahun |
10 mg |
|
|
Laki-Laki |
10–12 tahun |
8 mg |
|
13–18 tahun |
11 mg |
|
|
19 tahun ke atas |
9 mg |
|
|
Perempuan |
10–12 tahun |
8 mg |
|
13–18 tahun |
15 mg |
|
|
19–49 tahun |
18 mg |
|
|
50 tahun ke atas |
8 mg |
|
|
Ibu Hamil |
Trimester 1 |
+0 mg |
|
Trimester 2 |
+9 mg |
|
|
Trimester 3 |
+9 mg |
|
|
Ibu Menyusui |
6 bulan pertama |
+0 mg |
|
6 bulan kedua |
+0 mg |
*) Sumber: Permenkes RI No. 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia.
Ciri-Ciri Tubuh Kekurangan Zat Besi
Efek kekurangan zat besi biasanya tidak disadari karena gejalanya muncul secara bertahap. Selain itu, gejala kondisi ini pun juga tidak selalu sama dari orang satu ke orang lain.
Beberapa ciri-ciri umum tubuh kekurangan zat besi, antara lain:
- rasa lelah dan lemas berkepanjangan,
- kulit dan wajah pucat,
- sesak napas saat aktivitas ringan,
- pusing atau sakit kepala yang sering muncul,
- jantung berdebar tidak teratur,
- kuku rapuh dan mudah patah,
- rambut rontok lebih dari biasanya, dan
- sulit berkonsentrasi dan mudah lupa.
Jika Anda atau orang terdekat mengalami beberapa ciri di atas secara bersamaan, segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan lebih lanjut.
Baca Juga: 7 Manfaat Zat Besi untuk Kesehatan dan Cara Memenuhinya
Daftar Penyakit Akibat Kekurangan Zat Besi
Kekurangan zat besi dapat menyebabkan penyakit yang serius bila tidak ditangani, terutama bila kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang. Berikut ini adalah sejumlah kondisi medis dan penyakit akibat kurang zat besi yang perlu Anda waspadai.
1. Anemia defisiensi besi
Anemia adalah penyakit akibat kurang zat besi yang paling umum. Kondisi ini terjadi akibat kadar Hb untuk mengangkut oksigen yang berkurang, sehingga muncul kelelahan ekstrem, kulit pucat, hingga sesak napas.
Anemia defisiensi besi diperkirakan memengaruhi 1,2 miliar orang di seluruh dunia (WHO, 2023). Pada kondisi berat, kondisi yang orang awam sebut penyakit kurang darah ini bisa menurunkan produktivitas kerja dan kualitas hidup secara signifikan.
2. Kerontokan rambut berlebihan
Folikel rambut membutuhkan zat besi untuk mendukung siklus pertumbuhan yang normal. Kekurangan zat besi bisa menyebabkan kerontokan rambut berlebih, yang secara medis dikenal sebagai telogen effluvium.
Pada kondisi ini, lebih banyak folikel rambut masuk ke fase istirahat secara bersamaan, di mana hal ini membuat rambut rontok dalam jumlah besar. Kondisi ini umumnya bersifat sementara dan dapat membaik setelah kadar zat besi kembali normal.
3. Penurunan daya tahan tubuh
Zat besi berperan dalam aktivasi sel imun, meliputi limfosit dan neutrofil, yang menjadi garda terdepan tubuh dalam melawan infeksi. Kadar yang rendah melemahkan respons kekebalan tubuh, sehingga Anda lebih rentan terhadap infeksi bakteri maupun virus.
Kekurangan zat besi juga berisiko memperlambat pemulihan saat tubuh sakit, karena sistem imun tidak mampu bekerja secara optimal tanpa pasokan zat besi yang memadai.
4. Gangguan tumbuh kembang anak
Zat besi penting untuk perkembangan otak dan fisik anak. Akibat dari kekurangan zat besi, pertumbuhan kognitif dan motorik anak dapat terhambat secara signifikan sejak usia dini.
Anak dengan defisiensi zat besi dapat mengalami penurunan kemampuan bahasa, memori, dan perhatian daripada anak dengan kadar zat besi normal. Kondisi ini berpotensi berlanjut hingga usia sekolah bila tidak ditangani sejak awal.
5. Glositis dan stomatitis
Dampak kekurangan zat besi juga terlihat pada area mulut. Kondisi ini memicu peradangan pada lidah (glositis) yang membuat permukaan lidah tampak halus, kemerahan, dan nyeri.
Luka di sudut mulut (stomatitis angular) juga biasanya muncul bersamaan. Kedua kondisi ini berpotensi mengganggu aktivitas makan dan berbicara, serta menjadi salah satu tanda awal defisiensi zat besi yang perlu diperhatikan (Anne Marie et al., 2023).
6. Sindrom kaki gelisah

Kadar zat besi rendah di otak berkaitan erat dengan sindrom kaki gelisah atau restless legs syndrome (RLS). Keluhan ini ditandai dengan adanya dorongan yang tak tertahankan untuk menggerakkan kaki, terutama di malam hari.
Sensasi tidak nyaman ini biasanya memburuk saat tubuh sedang beristirahat, sehingga bisa mengganggu tidur dan memicu sering mengantuk keesokan harinya.
Sebuah tinjauan menyebut bahwa suplemen zat besi oral (65 mg zat besi elemental) efektif mengatasi RLS pada pengidap dengan kadar feritin (protein dalam darah yang mengandung zat besi) kurang dari 75 mcg/l (Allen et al., 2018).
7. Pica
Pica ditandai dengan keinginan kuat mengonsumsi benda bukan makanan, seperti tanah, es batu, kapur, atau kertas. Kondisi ini sering dikaitkan dengan kekurangan zat besi yang tidak tertangani, meski mekanismenya belum sepenuhnya dipahami.
Pica lebih sering terjadi pada anak-anak dan ibu hamil. Apabila tidak ditangani, kebiasaan ini dapat membahayakan karena benda yang dikonsumsi berpotensi berbahaya bagi tubuh.
8. Koilonychia
Koilonychia adalah kondisi kuku yang berubah jadi tipis, rata, dan melengkung ke atas mirip sendok (spoon nail). Perubahan bentuk kuku yang tidak sehat ini terjadi ketika jaringan kuku tidak mendapat suplai zat besi dan oksigen yang cukup untuk berkembang normal.
Kondisi ini adalah tanda khas penyakit akibat kurang zat besi kronis yang dapat dialami oleh penderita anemia derajat sedang hingga berat. Koilonychia diperkirakan terjadi pada 5,4% orang dengan anemia defisiensi besi (Ranthod & Sonthalia, 2023).
9. Gangguan jantung dan pembuluh darah
Rendahnya kadar oksigen memaksa jantung bekerja lebih keras guna memenuhi kebutuhan seluruh jaringan tubuh. Kondisi ini meningkatkan risiko gangguan irama jantung (aritmia).
Tak hanya itu, beban kerja jantung yang terus meningkat dapat memicu pembesaran jantung (kardiomegali) serta menurunkan fungsi jantung secara bertahap. Bahkan, sepertiga pasien gagal jantung mengidap anemia dan hampir 50% di antaranya mengidap defisiensi zat besi (Kharel et al., 2024).
10. Gangguan fungsi kognitif dan konsentrasi
Gangguan fungsi kognitif termasuk dalam dampak kekurangan zat besi yang sering dialami, tetapi tidak disadari. Daya ingat dan fokus menurun akibat otak tidak mendapatkan cukup oksigen bisa ditandai dengan sering lupa, yang terjadi bahkan di usia muda.
Tinjauan terhadap 9 studi klinis menunjukkan bahwa pemberian suplementasi zat besi pada anak dan remaja berusia 5–19 tahun membantu membawa dampak positif pada hasil skor tes kecerdasan (Chen et al., 2022).
11. Komplikasi kehamilan
Defisiensi zat besi pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko komplikasi, termasuk bayi lahir prematur, berat badan lahir rendah (BBLR) pada bayi, hingga perdarahan pascamelahirkan. Janin juga berisiko mengalami masalah perkembangan otak akibat pasokan oksigen yang tidak optimal selama kehamilan.
Menurut Angka Kecukupan Gizi (AKG) dari Kemenkes RI, ibu hamil memerlukan tambahan zat besi sebesar 9 mg per hari di trimester kedua dan ketiga, di atas kebutuhan dasar harian sesuai usianya.
Baca Juga: 12 Makanan Penambah Darah untuk Ibu Hamil Cegah Anemia
Pilihan Makanan Sehat yang Mengandung Zat Besi
Memenuhi kebutuhan zat besi dari makanan sehari-hari menjadi langkah pencegahan yang paling mudah dilakukan. Berikut ini adalah sumber makanan kaya zat besi yang bisa Anda masukkan ke dalam menu harian.
|
Jenis Makanan |
Kandungan Zat Besi (per 100 g) |
|
Hati ayam |
15,8 mg |
|
Hati sapi |
5,0 mg |
|
Tempe |
4,0 mg |
|
Kacang merah rebus |
3,7 mg |
|
Bayam |
3,5 mg |
|
Tahu |
3,4 mg |
|
Telur ayam |
3,0 mg |
|
Daging sapi rendah lemak |
2,9 mg |
|
Ikan tongkol |
1,7 mg |
*) Sumber: Data Komposisi Pangan Indonesia - Kementerian Kesehatan RI (2018)
Terdapat dua jenis zat besi, yakni zat besi heme dari sumber hewani dan zat besi non-heme dari sumber nabati. Zat besi heme lebih mudah diserap tubuh dibanding zat besi non-heme.
Penelitian mencatat bahwa tingkat penyerapan zat besi heme berkisar 15–35%, sedangkan zat besi non-heme hanya 2–20%, tergantung kondisi tubuh dan komposisi makanan (Lynch et al., 2018). Konsumsi zat besi dari sumber nabati dengan makanan kaya vitamin C dapat membantu meningkatkan penyerapannya.
Kapan Perlu Suplemen Zat Besi?
Makanan bergizi mungkin tidak selalu cukup untuk kelompok dengan kebutuhan zat besi yang tinggi, seperti ibu hamil, remaja putri, dan penderita anemia. Dalam kondisi tersebut, suplemen zat besi bisa menjadi solusi tambahan yang efektif.
Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter sebelum memulai suplementasi. Dosis yang tidak tepat bisa memicu efek samping, seperti mual, sembelit, atau gangguan penyerapan mineral lainnya.
Pilihan Suplemen Zat Besi Berkualitas di Natural Farm
Mencukupi zat besi dari makanan saja terkadang sulit, terlebih bagi kelompok dengan risiko tinggi penyakit akibat kurang zat besi. Natural Farm memiliki beberapa pilihan suplemen zat besi berkualitas untuk membantu memenuhi kebutuhan harian Anda.
1. Natures Health Iron Complex

Beli Natures Health Iron Complex 60 Tablets di Natural Farm
Kadar zat besi yang rendah dapat menyebabkan kelelahan dan penurunan daya tahan, dua kondisi yang kerap tidak disadari. Natures Health Iron Complex hadir dengan formula yang mengombinasikan 25 mg zat besi (Ferrous bisglycinate chelate) bersama dengan kalsium, zinc, vitamin C, vitamin B kompleks dalam satu tablet praktis.
Vitamin C membantu meningkatkan penyerapan zat besi secara optimal, sedangkan vitamin B kompleks mendukung produksi energi harian. Produk ini cocok untuk Anda yang aktif dan ingin menjaga kadar zat besi secara konsisten.
2. Nuvita Nutri Iron

Beli Nuvita Nutri Iron 60 Tablet di Natural Farm
Bagi Anda yang pernah mual saat minum suplemen zat besi, Nuvita Nutri Iron dapat menjadi solusi. Suplemen ini mengandung 20 mg Iron Fumarate, bentuk zat besi yang lebih mudah diserap dan lembut di lambung untuk mengurangi risiko gangguan pencernaan.
Formula tunggal ini membantu memenuhi kebutuhan zat besi harian, tanpa adanya khawatir kelebihan asupan nutrisi lainnya. Pas untuk Anda yang baru mulai minum suplemen harian.
Walaupun terasa lebih lembut, minum suplemen ini bersama dengan makanan ringan untuk kenyamanan yang lebih baik. Hindari pemberian produk pada orang dengan transfusi darah berulang atau anemia yang bukan disebabkan kekurangan zat besi.
3. Wellness Hemaplex

Beli Wellness Hemaplex 60 Tablets di Natural Farm
Produksi sel darah merah yang tidak optimal berisiko memperparah dampak kekurangan zat besi. Wellness Hemaplex diformulasikan mendukung kesehatan darah secara menyeluruh dengan kandungan 20 mg zat besi, 400 mcg asam folat, dan 200 mcg vitamin B12.
Bentuk zat besi dalam suplemen ini menggunakan ferrous fumarate, yang mengandung besi elemental (elemental iron) lebih tinggi dibanding ferrous sulfate dan ferrous gluconate, yang dapat mendukung penyerapan optimal.
Kombinasi nutrisi tersebut akan bekerja bersama untuk mendukung pembentukan sel darah merah yang sehat. Produk ini cocok khususnya untuk Anda yang memiliki kebutuhan nutrisi lebih tinggi, seperti ibu hamil atau wanita dengan produktivitas tinggi.
4. ChildLife Liquid Iron

Beli ChildLife Iron 118 ml di Natural Farm
Kekurangan zat besi pada anak berisiko menyebabkan gangguan tumbuh kembang hingga penurunan kemampuan belajar. ChildLife Liquid Iron hadir di dalam bentuk cair (liquid) yang lebih mudah dikonsumsi si Kecil dibanding tablet biasa.
Suplemen cair anak yang mengandung zat besi di dalam bentuk ferrous bisglycinate chelate ini diformulasikan khusus dengan dosis aman sesuai usia anak. Dengan rasa Natural Berry yang enak dan mudah diterima, si Kecil dengan mudah minum tanpa paksaan.
Produk ini membantu memenuhi kebutuhan zat besi anak untuk mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif yang optimal. Konsultasi dengan dokter sebelum memberi suplemen ini, terutama untuk anak di bawah usia 6 bulan.
*) Disclaimer: Suplemen adalah pelengkap pola makan sehat, bukan pengganti. Konsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi suplemen apa pun, terutama bila Anda mengidap kondisi medis atau sedang minum obat-obatan tertentu.



